Festival Debus Banten

Untuk mempertahankan dan memperkenalkan seni tradisi Debus Banten ke masyarakat terutama wisatawan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menggelar Festival Debus Banten di Pantai Anyer, Banten. (Photo by Dani Daniar)

Candi Sewu

Merupakan candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara Candi Prambanan. Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. (Photo by Dani Daniar)

Thaipusam Kuala Lumpur

Merupakan perayaan bagi umat Hindu, khususnya Tamil, untuk menghormati Dewa Perang yaitu Dewa Murugan atau juga dikenali sebagai Dewa Subramaniam. Thaipusam dirayakan pada bulan 'Thai' bulan kesepuluh dalam kalendar Tamil. (Photo by Dani Daniar)

Pantai Sumur-Ujung Kulon

Jika sobat jalan berkunjung ke Ujung Kulon, salah satu akses menuju ke sana adalah daerah Sumur, dari Pantai Sumur kalian bisa sewa perahu untuk menyebrang ke Pulau Peucang, Ujung Kulon. (Photo by Dani Daniar)

Remaja Putri Dayak Kalimantan

Remaja putri dari suku Dayak Kalimantan Timur memakai pakaian adat mereka pada sebuah acara Pekan Budaya Dayak. (Photo by Dani Daniar)

"NADRAN" Pesta Laut nelayan Kali Adem, Muara Angke.



Minggu pagi, 13 Desember 2015, ada suasana lain di kawasan perkampungan nelayan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara. Perahu nelayan Kali Adem dipenuhi dengan hiasan pernak-pernik bendera, makanan dan minuman. Panggung hiburan pun sudah berdiri di tengah-tengah perkampungan. Hari itu nelayan tradisional Kali Adem sedang melaksanakan acara Nadran.

Nadran adalah upacara tradisi nelayan di pesisir utara Pulau Jawa. Penyelenggaraannya dilakukan setahun sekali, terutama menjelang saat datangnya musim yang baik bagi nelayan untuk melaut mencari ikan,” kata Haji Carman, Ketua Panitia Pesta Laut Nelayan Tradisional Kali Adem Muara Angke.

Upacara Nadran intinya adalah sedekah bumi dengan melarung kepala kerbau dan sesajian dari aneka makanan yang disiapkan warga nelayan. Adapun bentuk sesajinya antara lain mulai dari nasi merah putih, nasi kuning, tumpeng, buah-buahan, telur, ayam hidup, ayam bakar, kembang 7 rupa dan yang utama adalah 2 kepala kerbau. Semua sesaji disimpan di dalam sebuah replika perahu nelayan yang diberi nama Kapal Muara Bina Lestari.

Ritual dimulai dengan menarik replika perahu yang berisi sesaji menuju tengah laut, diiringi oleh perahu-perahu nelayan setempat. Kebetulan kami saat itu memilih ikut dengan kapal nelayan dari keluarga Pak Tawa, nelayan Kali Adem asal Indramayu.

Sampai di tengah laut, perahu sesaji yang berwarna merah putih itu dilepas. Kemudian salah satu perahu pengiring menabrak perahu sesaji tersebut. Replika perahu yang terbuat dari kayu dan gedebog pisang itu hancur dan tenggelam, para nelayan tetap antusias berebut apapun sesaji yang bisa di ambil. Mereka bahkan rela nyemplung dan berenang di laut untuk mengambil sesaji yang mengapung. Salah satu awak perahu yang kami tumpangi berhasil membawa drum, drum tersebut nanti bisa dimanfaatkan keluarga Pak Tawa untuk tempat merebus kerang hijau.

Pak Tawa menuturkan, setiap sesaji adalah berkah bagi mereka. Karenanya, para nelayan seolah ‘mati-matian’ berebut sesaji tersebut. “Konon, sesaji itu membawa berkah. Sudah dari dulu begini budayanya. Kami meyakini sesaji itu membawa berkah.” ucapnya.
‎Di balik ritual tahunan itu, dengan bersyukur kepada Tuhan mereka berharap ke depannya mereka diberikan keselamatan dan rezeki melimpah dari laut.

Selesai ritual larung sesaji, kami ikut keluarga Pak Tawa liburan ke Pulau Bidadari. Pada event Pesta Laut, warga masuk ke Pulau Bidadari tidak dipungut biaya, alias gratis. (dani daniar / sobatjalan.com)