Festival Debus Banten

Untuk mempertahankan dan memperkenalkan seni tradisi Debus Banten ke masyarakat terutama wisatawan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menggelar Festival Debus Banten di Pantai Anyer, Banten. (Photo by Dani Daniar)

Candi Sewu

Merupakan candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara Candi Prambanan. Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. (Photo by Dani Daniar)

Thaipusam Kuala Lumpur

Merupakan perayaan bagi umat Hindu, khususnya Tamil, untuk menghormati Dewa Perang yaitu Dewa Murugan atau juga dikenali sebagai Dewa Subramaniam. Thaipusam dirayakan pada bulan 'Thai' bulan kesepuluh dalam kalendar Tamil. (Photo by Dani Daniar)

Pantai Sumur-Ujung Kulon

Jika sobat jalan berkunjung ke Ujung Kulon, salah satu akses menuju ke sana adalah daerah Sumur, dari Pantai Sumur kalian bisa sewa perahu untuk menyebrang ke Pulau Peucang, Ujung Kulon. (Photo by Dani Daniar)

Remaja Putri Dayak Kalimantan

Remaja putri dari suku Dayak Kalimantan Timur memakai pakaian adat mereka pada sebuah acara Pekan Budaya Dayak. (Photo by Dani Daniar)

Icip-icip Garang Asem Haji Masduki Pekalongan


Setelah mengunjungi beberapa objek wisata Kota Pekalongan, datanglah rasa lelah, lapar dan dahaga. Mba Tri sebagai nahkoda rombongan memutuskan untuk membawa kami makan siang di Rumah Makan Garang Asem Haji Masduki, masih di Kota Pekalongan.

RM. Garang Asem Haji Masduki berada di jalan Jenderal Sudirman, tidak jauh dari alun-alun Kota Pekalongan. Mendengar nama Garang Asem, saya sangat semangat, gak sabar untuk mencicipi, karena jaman saya kuliah di Yogyakarta Garang Asem adalah menu favorit saya kalau makan di Angkringan (Nasi Kucing).

Taraaaaaaa menu makan siang sudah tiba, wait..wait...kita pesen Garang Asem tapi kok yang disajikan malah Rawon Sapi?...pie iki...

Ternyata oh ternyata, di sini Garang Asemnya berbeda, tidak seperti Garang Asem Yogyakarta yang biasa saya makan, di Yogyakarta Garang Asem itu berupa pepes daging ayam dibungkus daun pisang dan sedikit berkuah. Di RM. Garang Asem Haji Masduki ini Garang Asem terbuat dari daging sapi, persis seperti rawon, tapi gak masalah buat saya, masing-masing daerah punya ciri khas, yang penting makaaaaaaan. Sebelum makan dagingnya, saya icip-icip kuahnya dulu, dan beuuuuuh uenaaaaaaak coy...kalo kata Pak Bondan “maknyooooooooos”...

Kalo teman-teman Sobat Jalan sedang keluyuran di Pekalongan, wajib dah kulineran di sini, RM. Garang Asem Haji Masduki ini bukanlah nama yang asing di Pekalongan, orang Pekalongan sudah pasti tau, Haji Masduki konon sudah berjualan Garang Asem sejak tahun 1952. Namun saat itu beliau belum memiliki rumah makan seperti sekarang, dulu katanya beliau dagang pakai gerobak, Rumah makan yang ada di dekat alun-alun Pekalongam ini mulai berdiri tahun 1982. Kalo pengen ketemu dengan Pak Haji Masdukinya gak bakalan ketemu, Pak Haji Masduki sudah meninggal, pengelolaan RM. Garang Asemnya dilanjutkan oleh anak cucunya...REGENERASI.





Kamera Mirrorless vs DSLR

Sumber: www.photographylife.com
Sobat Jalan, ketika traveling biasanya kita melihat kawan-kawan kita atau orang sekitar kita membawa alat perekam, ada yang pakai handphone, pocket camera dan DSLR. Yang sedang booming sekarang adalah penggunaan Mirrorless untuk traveling. Menurut saya pribadi, penggunaan Kamera Mirrorless sangat direkomendasikan untuk traveling, selain ringan, fiturnya kurang lebih sama dengan DSLR. Berikut ini sedikit penjelasan mengenai perbedaan antara kamera DSLR dan Mirrorless.

Desain Kamera Digital SLR (DSLR) memiliki beberapa kelemahan/keterbatasan yang melekat. Kamera DSLR pada awalnya memang didesain untuk film dan ketika era digital berkembang maka body yang digunakan tetap saja body mekanis yang lama. BEberapa komponen mekanis seperti mirror, optical viewfinder, pentaprism, sistem phase detection serta oprasi autofokus masih tetap menggunakan yang lama. 

Sementara kemajuan teknologi terus berkembang dengan berbagai macam fitur baru seperti HDR< GPS,WIfi dll. kamera DSLR tetap saja nyaman dengan fitur yang lama, dan tentunya dengan ukuran yang cukup besar dengan beberapa alasan. Pertama bahwa mirror didalam kamera DSLR harus berukuran sama dengan ukuran sensor digital sehingga memerlukan ruang yang cukup banyak. Yang kedua pentaprism yang merubah sinar vertikal ke horizontal di viewfinder juga harus berukuran sama dengan mirror sehingga membuat bagian atas kamera DSLR berukuran besar. 

Dan hal terakhir adalah produsen tetap ingin lensa yang telah ada tetap kompatibel dengan kamera Digital, sehinga konsumen yang telah memiliki lensa lama tidak terlalu dirugikan akibat transformasi kamera di era digital. Hal ini berarti bahwa produsen harus tetap menjaga jarak flange yakni jarak antara kamera mount dan film/sensor plane.


Sumber: www.pantip.com


Keterbatasan Kamera DSLR
Karena memiliki mirror dalam bodi maka kamera DSLR memiliki beberapa keterbatasan antara lain:

Ukuran dan berat
Baik untuk mirror maupun prisma akan membutuhkan ruang masing-masing yang membuat ukuran kamera menjadi besar. Ini juga berarti bahwa jendela bidik/viewfinder harus tetap di tempat yang sama pada setiap DSLR, segaris dengan sumbu optik dan sensor digital. Hal inilah yang menyebabkan kebanyakan kamera digital SLR memiliki penampilan yang hampir sama.


Ukuran besar berarti juga lebih berat karena beberapa komponen didalamnya. WAlaupun body kamera terbuat dari plastik dan beberapa komponen internal membuatnya lebih ringan tapi masih saja masih terbilang berat untuk ukuran kamera.

Desain Mirror dan Shutter yang kompleks
Setiap aksi akan membutuhkan pergerakan mirror baik naik maupun turun untuk memasukkan cahaya menuju sensor. Hal tersebut akan menimbulkan beberapa masalah antara lain :

  1. Noise : Noise yang kita dengarkan saat menekan dan melepas shutter release berasal dari mirror. Walaupun beberapa produsen telah berinisiatif mengusung mode silent namun noise tetap saja terdengar. 
  2. Pergerakan udara dalam body kamera. Dikarenakan pergerakan mirror didalam tubuh kamera maka debu maupun partikel kecil juga akan tertiup sehingga berpotensi memasukkan debu tersebut kedalam sensor. Sama dengan debu yang tertiup angin didalam ruangan mereka akan berputar-putar didalam, dan menurut pengalaman saya memotret dengan beberapa kamera mirrorless kurang rentan terhadap debu dibandingkan dengan kamera DSLR yang saya miliki. 
  3. Batasan frame speed. Sementara mirror dan shutter mekanisme modern sangat baik namun tetap saja terkait dengan kecepatan fisik mirror naik dan turun akan terbatas. Sebagai contoh kamera Nikon D4 dapat mengabadikan 11 frame per detik bisa naik bisa turun maka kamera mirrorless tetap akan konstan diangka 11. Hal tersebut dikarenakan sinkronisasi yang baik antara mirror dan shutter untuk menyelesaikan pekerjaan. 
  4. Biaya mahal untuk mirror. Mekanisme mirror sangat kompleks dan terdapat puluhan bagian yang berbeda yang dapat menjadi penyumbang tingginya harga kamera DSLR 
Harga
Walaupun produsen telah berusaha lebih efektif dari tahun ke tahun namun tetap saja harga kamera DSLR lebih mahal dari kamera mirrorless maupun kamera saku. Hal ini terbilang cukup wajar karena merakit mekanisme mirror bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali komponen bergerak yang perlu dirakit dengan presisi yang tinggi, kebutuhan pelumas ditempat logam bergesekan dll.

Mirrorless sebagai solusi

Kamera mirrorless menjadi solusi bagi produsen untuk menghasilkan kamera dengan harga lebih bersahabat sehingga lebih terjangkau untuk konsumen dengan tetap mempertahankan kualitas yang ada pada kamera DSLR. Kamera jenis ini diprediksi bakal menjadi idola dengan berbagai fitur canggih yang ditawarkan. Namun benarkah hal itu bisa terwujud? Berikut adalah beberapa kelebihan kamera mirrorless:

Ukuran yang lebih kecil dan bobot yang lebih ringan
Menghilangkan cermin dan pentaprism ammpu membebaskan banyak ruang sehingga ukuran bisa diperkecil dan tentunya lebih ringan dibandingkan dengan kamera DSLR. Dengan jarak flange yang lebih pendek jarak antara sensor dan mount lensa dapat terkurangi. Penjualan kamera saku/poin and shot saat ini sudah jauh menurun, ahl tersebut dikarenakan oleh semakin canggihnya fitur smartphone yang tentunya menyamai kamera saku. Hal ini bis a menjadi pelajaran bahwa dengan ukuran yang lebih kecil dan fitur yang lebih canggih akan banyak disukai oleh orang. Tren tersebut juga terjadi pada beberapa jenis barang lektronik lain seperti TV/Laptop yang semakin tipis dan ringan tentunya dengan kualitas yang semakin meningkat.

Tidak terdapat mirror mechanism yang juga berarti:

  1. Noise berkurang karena tidak ada pergerakan mirror 
  2. Resiko blur gambar akibat getaran mirror dapat diminimalkan 
  3. Lebih aman dari debu karena pergerakan mirror dapat memicu debu memasuki sensor 
  4. Mudah dibersihkan 
Harga
Kamera mirrorless tentunya berharga lebih murah karena peniadaan mirror dan pentaprism. Selain itu biaya perakitan yang sedemikian rumit di kamera DSLR dapat diminimalisir.

Viewfinder elektronik
Ini merupakan kelebihan terbesar kamera mirrorless untuk menghadirkan teknologi masa depan. EVF memiliki banyak keuntungan jika dibandingkan dengan OVF(Optical Viewfinder pada kamera DSLR) antara lain Information overlay, Live Preview, Image review, tampilan yang lebih tajam, digital zoom, Focus peaking, face/eye tracking, dan fokus point yang tidak terbatas.

Setelah membahas tentang berbagai kelebihan kamera mirrorless, berikut adalah beberapa kekurangannya:

  1. EVF Lag(Electronic viewfinder lag): Pada prakteknya penggunaan EVF tidaklah seresponsif OVF sehingga terdapat jeda waktu/lag. Namun semakin hari lag tersebut semakin berkurang seiring dengan perkembangan teknologi. 
  2. Subject tracking/continous autofocus. Sementara fitur contrast detect sudah sangat mengesankan pada kamera mirrorless namun tetap saja memiliki kelemahan dalam hal continous autofocus performance dan subject tracking. Hal ini menyebabkan kamera mirrorless tidak banyak berguna untuk fotografi olahraga ataupun fotografi wildlife. Namun dengan berkembangnya hybrid autofokus maka kemampuan continous fokusing akan semakin baik. 
  3. Daya tahan batereDaya tahan batere yang lebih singkat bila dibandingkan dengan kamera DSLR. Menyediakan energi untuk LCD dan EVF secara terus menerus akan menguras daya tahan batere sehingga lebih cepat habis. Pada kebanyakan kamera mirrorless akan tahan untuk 300 shot per batere. Bila dibandingkan dengan DSLR maka kalah jauh karena mampu mengabadikan >800 gambar dengan 1 batere. Ini merupakan masalah terutama saat kita bepergian yang tidak memiliki akses terhadap energi listrik.
Sumber: http://askthephotographer.com/

Akulturasi Budaya antara Tradisi Sufi dan Gamelan Jawa


NengNang...NengGung...NengNang...NengGung...alunan musik gamelan jawa sudah terdengar ketika kami rombongan #FamTripJateng memasuki Jl. Progo, Pekalongan, Jawa Tengah. Suara musik gamelan jawa ini berasal dari sebuah rumah tempat Sanggar Cahyo Kedaton berlatih. Ya...tujuan kami saat ini adalah Sanggar Cahyo Kedaton, sebuah kelompok kesenian yang menggabungkan unsur spiritual dan seni musik tradisional.

Saat masuk halaman rumah markas Sanggar Cahyo Kedaton, saya pribadi agak-agak heran, penasaran, musik yang terdengar adalah musik klasik gending jawa, tapi yang menyambut kami kok muka-muka keturunan arab. Dan sebelumnya panitia meyebutkan bahwa kami akan diajak nonton Tarian Sufi (Whirling Dervish) di sini, yang saya tau Tarian Sufi (Whirling Dervish) berasal dari Turki, lah ini malah disuguhi gamelan jawa, tambah bingung... :)

Sedikit demi sedikit rasa heran saya terjawab setelah Kabid Disbudpar Pekalongan Bapak Sigit Mursito membuka acara dengan menjelaskan secara singkat tentang Sanggar Cahyo Kedaton ini, penjelasan lengkap mengenai Sanggar Cahyo Kedaton dipaparkan oleh pimpinan sanggar yaitu Habib Muhammad D. Shabab.

Sanggar Cahyo Kedaton pada awalnya merupakan satu kelompok pengajian atau majelis dzikir, salah satu pelaksanaan ritualnya mereka melakukan Tarian Sufi yang dikenal dengan Whirling Dervish, Whirling Dervish ini adalah Tarian Sufi yang berasal dari Turki, diperkenalkan oleh Maulana Jelaluddin Rumi, lahir di Balkh antara tahun 1200 dan 1207. Tarian Sufi ini diciptakan Rumi sebagai bentuk sebuah ekspresi dari rasa cinta, kasih, dan sayang yang maha tinggi dari seorang hamba kepada sang Robbii.

Aktifitas pengajian ini ternyata diam-diam dipantau oleh Disbudpar Pekalongan, Whirling Dervish yang dilakukan majelis dzikir ini ternyata menarik perhatian Disbudpar. Pihak Dishubbudpar merayu kelompok pengajian ini untuk ikut serta dalam lomba PRPP tahun 2010. Pada awalnya mereka menolak dengan alasan mereka bukanlah enternainer tapi majelis dzikir. Namun dengan kerjasama yang baik, akhirnya majelis dzikir ini bersedia, maka dibentuklah Sanggar Cahyo Kedaton, sebuah kelompok kesenian multikultural yang menggabungkan unsur spiritual keagamaan dan musik gamelan. Karena berawal dari majelis dzikir, kelompok Sanggar Cahyo Kedaton ini harus berlatih musik gamelan mulai dari nol. Beruntung sekali mereka mendapatkan pelatih seorang maestro gamelan, yaitu Bapak Sudarsono yang telah menekuni dunia karawitan selama 40 tahun lebih. Dan hasilnya adalah mereka berhasil meraih juara satu di lomba PRPP 2010.

Dengan kegigihan dan juga dukungan pihak Disbudpar, Sanggar Cahyo Kedaton saat ini telah memiliki perangkat gamelan dan pendopo untuk latihan. Mereka latihan setiap Selasa malam,  dimulai dari setelah maghrib hingga maksimal pukul 22.00 supaya tidak mengganggu tetangga.

Meskipun bukan jam latihan, Sanggar Cahyo Kedaton menjamu kami dengan menampilkan gending gamelan jawa klasik, merinding mendengarnya. Salut, dengan anggotanya yang merupakan kelompok ARJATI alias terdiri dari orang Arab, Jawa dan Tionghoa, mereka sangat lihai memainkan musik gending klasik jawa...uedaaaaaaaaaaaaan tenan pokoknya dah. Dan satu pertunjukan lagi membuat saya bengong, yaitu pertunjukan Tarian Sufi (Whirling Dervish) yang diiringi musik gending jawa klasik, uedan, kok bisa klop,...dulu saya pernah nonton Whirling Dervish tapi dengan musik bawaan negara asalnya yaitu turki. Mungkin inilah yang disebut sebagai akulturasi budaya...

Ada lagi yang saya suka di Sanggar Cahyo Kedaton, mendoannya...enak banget...







































































Objek Wisata Air Terjun Curug Sewu – Kendal



Setelah melewati jalanan yang berkelok-kelok dengan pemandangan hutan jati dan ladang jagung, akhirnya kami para Travel Blogger dan Disbudpar Jawa Tengah yang tergabung dalam rombongan #FamTripJateng tiba di tujuan yaitu objek wisata air terjun Curug Sewu. Curug Sewu ini adalah salah satu destinasi wisata yang berada di wilayah pantura bagian barat Jawa Tengah, lokasinya berada di Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal. Kebetulan kami berangkat dari Semarang, waktu tempuh dari Semarang menuju lokasi kurang lebih 2 jam perjalanan, kalau dari pusat Kota Kendal mungkin kurang lebih 1 jam perjalanan, kondisi jalan menuju Curug Sewu cukup bagus.

Air terjun Curug Sewu memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri dibandingkan air terjun lainnya, total ketinggian air terjun adalah 70 meter, terdiri dari 3 susunan air terjun, masing-masing memiliki ketinggian 45 meter, 15 meter dan 20 meter. terlihat sangat indah dan menawan untuk dipandang, terlebih pada saat tertentu, dari antara terjunan muncul pelangi paduan aneka ragam warna yang mempesona. Kalau hanya memiliki 3 tingkat air terjun, kenapa disebut Curug Sewu ya, ada yang tau ?… ternyata nama Curug Sewu diambil dari nama desa tempat air terjun ini berada, yaitu Desa Curug Sewu.


Untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung, area objek wisata Air Terjun Curug Sewu telah dilengkapi dengan fasilitas pelengkap seperti area pandang, mushola, warung makanan, taman bermain anak, kebun binatang mini dan kolam renang, komplit deh. Setelah melewati gerbang masuk objek wisata, kita bisa melihat Air Terjun Curug Sewu dari area pandang. Selain melihat indahnya Air Terjun Curug Sewu, kita juga bisa melihat indahnya pemandangan landscape Kendal.


Tiket masuk wisata air terjun Curug Sewu sangat…sangat…sangat murah, hanya Rp. 3.500,- /orang. Namun jika mau masuk fasilitas Kebon Binatang Mini dan kolam Renang, arus mengeluarkan kocek lagi, gak mahal kok.


Curug Sewu ini merupakan air terjun tertinggi di Jawa Tengah lho, recomended. Akses menuju Curug Sewu cukup mudah kok, Untuk mencapai tempat inipun tidaklah susah, selain sudah tersedia angkot jurusan ke Curug Sewu (angkot warna merah), kondisi jalanpun sudah beraspal mulus, serta berkelok-kelok.tempat ini bisa ditempuh dari dua jalan utama, untuk daerah Kendal biasanya menggunakan jalur dari arah ( Weleri – Sukorejo.) Kondisi jalannyapun mulus beraspal serta berkelok-kelok. Sedangkan dari arah Magelang, Temanggung dan Wonosobo bisa melewati (Parakan - Sukorejo - Curug Sewu).