Festival Debus Banten

Untuk mempertahankan dan memperkenalkan seni tradisi Debus Banten ke masyarakat terutama wisatawan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menggelar Festival Debus Banten di Pantai Anyer, Banten. (Photo by Dani Daniar)

Candi Sewu

Merupakan candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara Candi Prambanan. Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. (Photo by Dani Daniar)

Thaipusam Kuala Lumpur

Merupakan perayaan bagi umat Hindu, khususnya Tamil, untuk menghormati Dewa Perang yaitu Dewa Murugan atau juga dikenali sebagai Dewa Subramaniam. Thaipusam dirayakan pada bulan 'Thai' bulan kesepuluh dalam kalendar Tamil. (Photo by Dani Daniar)

Pantai Sumur-Ujung Kulon

Jika sobat jalan berkunjung ke Ujung Kulon, salah satu akses menuju ke sana adalah daerah Sumur, dari Pantai Sumur kalian bisa sewa perahu untuk menyebrang ke Pulau Peucang, Ujung Kulon. (Photo by Dani Daniar)

Remaja Putri Dayak Kalimantan

Remaja putri dari suku Dayak Kalimantan Timur memakai pakaian adat mereka pada sebuah acara Pekan Budaya Dayak. (Photo by Dani Daniar)

Liburan ke Pahawang, Kelagian dan Tanjung Putus, Lampung



Perjalanan dimulai dari Jakarta, kami kumpul di depan Mall Slipi Jaya kemudian lanjut naik bis umum AC jurusan Merak dengan ongkos Rp. 18.000,-. Dari Terminal Bis Merak kami jalan kaki menuju Pelabuhan Merak, jarak dari Terminal Bis ke Pelabuhan tidak jauh, bagi yang malas jalan kaki bisa naik ojek dari Terminal Bis.

Lewat tengah malam kami menyebrangi selat sunda menuju Pelabuhan Bakauheni menggunakan Kapal Roro dengan harga tiket Rp. 10.000,-/orang. Di dalam kapal kami langsung menuju ruangan Bisnis dengan kursi empuk, berharap bisa tidur mengumpulkan tenaga untuk aktifitas esok hari. Masuk di kelas bisnis gak gratis, harus bayar lagi Rp. 8.000,- lumayan lah itung-itung sewa kursi empuk buat tidur :)

Menjelang subuh kami tiba di Pelabuhan Bakauheni Lampung, saya dan beberapa teman sesama muslim pergi ke mushola dahulu untuk melakukan sholat subuh. Lanjut kami menuju tempat parkir mobil, di sana sudah menunggu mobil jemputan (mobil sewaan). Pukul 05.30 kami langsung ngacir menuju Dermaga Ketapang, namun sebelumnya kami harus mampir dulu ke Mesjid dekat Stasiun Tanjung Karang untuk menjemput teman kami Elda dan Selfi yang berasal dari Palembang. Sekitar pkl. 08.00 kami tiba di Dermaga Ketapang dan dijemput oleh Pak Yanto. Dermaga Ketapang ini adalah dermaga kecil milik TNI Angkatan Laut, air laut di sini masih bening dan bersih. Oke…tujuan kami selanjutnya adalah Tanjung Putus, kami akan menginap di sebuah Cottage milik Koh Picung.

Sebelum sampai ke penginapan, kami mampir dulu di Pulau Kelagian untuk sarapan dan ganti pakaian renang karena setelah dari Kelagian akan mampir dulu di Pulau Pahawang Kecil untuk snorkling. Pada spot snorkling pertama ini ternyata kami menemukan sepasang ikan nemo komplit dengan anemonnya. Kesenangan kami agak terganggu dengan banyaknya ubur-ubur kecil yang menyengat beberapa bagian tubuh, meskipun sengatannya gak terlalu sakit tp kalo banyak lumayan terganggu, apalagi yang disengat pas kena jidat dan bibir…hadeuuuuh. Setelah dirasa cukup snorkling di sana kami langsung capcus menuju penginapan di Tanjung Putus. Di Tanjung Putus ternyata ada beberapa Cottage, dua diantaranya adalah milik Koh Picung. Penginapannya cukup bagus, full AC, satu kamar 4 kasur (2 ranjang tingkat), WC juga banyak, dan yang menarik adalah tempat makan plus karaoke yang menjulur ke laut (pantai). Setelah pembagian kamar, kami istirahat sejenak dan makan siang sambil ngetes-ngetes fasilitas karaoke…saat kami sedang bercanda tiba-tiba Koh Picung bawa karung gede isi roti, kirain itu roti buat kami, ternyata itu adalah roti untuk ngasih makan ikan-ikan yang ada di bawah kami…” Kalau mau ngasih makan ikan pake roti ini ya, tapi jangan terlalu banyak…” kata Koh Picung sambil ngambil roti dan melemparkannya ke laur. Dan benar, ikan-ikan kecil lucu pada datang bergerombol makanin tu roti…

Siang menjelang sore kami mulai menaiki kapal lagi, kali ini tujuannya adalah Pulau Balak, di sini terdapat beberapan kolam pelestarian ikan hias, lupa gak difoto tempatnya :) maklum saya bukan fotografer hehehehe. Di sini kami tidak lama, kami lanjutkan untuk mencari spot snorkling, beberapa spot kami lewati karena terumbu karangnya sudah banyak yang hancur. Berhubung sudah sore kami putuskan untuk snorkling tidah jauh dari penginapan, lupa nama tempatnya. Terumbu karang dan ikannya bagus-bagus, di sini juga ada ikan nemonya. Tapi lagi dan lagi, gangguan sengatan ubur-ubur kecil dan gelombang laut yg sudah mulai kenceng akhirnya kami putuskan naik perahu dan balik ke penginapan. Berhubung belum puas, sebelum mandi kami berenang dan main kano depan penginapan…seru. Waktu di dermaga saya baru nyadar bahwa dekat penginapan dalah kawasan pelestarian terumbu karang, ada papan tulisannya :) pantesan karang dan ikannya bagus-bagus.

Besok harinya pagi-pagi cuaca tidak bersahabat, hujan sampai pkl. 09.00, harusnya pkl. 07.00 kami sudah meluncur ke Pulau Pahawang Besar. Dalam cuaca masih mendung, pkl. 10.00 kami berlayar menuju Pulau Pahawang Besar dan balik lagi kepenginapan pkl. 12.00, beres-beres dan kembali ke Bakauheni…pulang. (Photo by Dani Daniar)

Contact Person:
Penginapan Koh Picung : 0853-5756-2228
Sewa Perahu, Alat Snorkling & Sewa Kendaraan, Pa Yanto : 0812-7283-2060



























Wisata Pulau Pari - Jakarta



Menanggapi ajakan seorang teman untuk motret Lyrid Meteor Shower (Hujan Meteor Lyrid) di Pulau Pari, -+ Pkl. 08.00 WIB kami berlima berangkat dari Muara Angke menuju Pulau Pari, agak ngaret memang, harusnya kapal berangkat Pkl. 07.00 WIB. Waktu di Pelabuhan Muara Angke gak sengaja ketemu mas Ahmad Fauzan dari National Geographic Indonesia, beberapa bulan yang lalu saya dan mas Ahmad sempat hunting bareng Liputan Pesisir Jakarta bareng mas Reynold Sumayku dkk. dan ternyata tujuan kami sama yaitu plesiran ke Pulau Pari :) ….lets gooooo….

Dimanakah Pulau Pari? Pulau Pari merupakan salah satu pulau yang berada di gugusan Kepulauan Seribu dan masuk wilayah administrasi DKI Jakarta. Disebut Pulau Pari karena konon katanya jika dilihat dari atas (pesawat atau citra satelit) bentuk pulau ini seperti ikan pari. Pulau Pari masuk dalam teritori Kelurahan Pari. Terdiri dari satu Rukun Warga dan 4 Rukun Tetangga. Kenapa satu RW? karena ketiga RW lainnya, terletak di Pulau Lancang. Dengan kata lain, Pulau Lancang dan Pulau Pari merupakan 2 pulau yang termasuk ke dalam satu wilayah administrasi, yakni Kelurahan Pari. Pulau Pari sendiri memiliki luas wilayah kurang lebih 94 hektar. Seperti Pulau Tidung, Macan, Bidadari dan beberapa pulau lain yang ada di gugusan Kepulauan Seribu, Pulau Pari juga merupakan surga tersembunyi bagi penikmat alam. Pasir putihnya, air birunya, dan keramahan penduduknya, menjadi nilai lebih. Pulau ini juga menjadi lahan konservasi biota laut oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kebetulan di Pulau Pari kami ketemu langsung dengan Ketua RW4 Pulau Pari yaitu Pak Ilhamsyah, selanjutnya dipanggil Pak Ilham. Ketemu dengan Pak Ilham sebenarnya bukan kebetulan, Pak Ilham ini adalah orang tua mas Arif, teman dari sahabat kami yang bekerja di PMI Pusat. Setibanya di Dermaga Pulau Pari, kami dijemput Pak Ilham lanjut menuju ke Homestay. Di Pulau Pari tidak ada hotel, jadi kami menginap di rumah penduduk. Andai saja kami konfirmasi jauh-jauh hari mau datang ke Pulau Pari, kami bisa nginap di rumah Pak Ilham, tapi berhubung rumah Pak Ilham sudah ditempati oleh rombongan lain akhirnya kami ditempatkan di salah satu rumah tidak jauh dari rumah Pak Ilham.

Pak Ilham merupakan warga Pulau Tidung yang pindah ke Pulau Pari. Karena Pulau Tidung sudah mulai rame dan banyak sampah, Pak Ilham dan Istrinya yang berasal dari Tangerang Banten memutuskan untuk pindah ke Pulau Pari. Denger-denger sebagian besar pulau ini sudah dibeli oleh pihak swasta, tapi kalau mau beli tanah dan bangun rumah menurut pak Ilham kalo gak salah harganya Rp. 140.000 per meter persegi…ada yang minat?…

Setelah ketemu tuan rumah dan membayar uang sewa sebesar Rp. 300.000,- untuk satu hari, kami istirahat dan makan siang. Lalu kami lanjut untuk pergi snorkling, karena dadakan kami harus menunggu alat snorkling dan perahu cukup lama, semuanya diberesin sama pak RW :). Setelah menunggu cukup lama akhirnya Pak Ilham membawakan kami lima set peralatan snorkling, beliau juga memberi sara-saran apa yang harus kami lakukan ketika melakukan kegiatan snorkling, demi keselamatan kami. Sewa satu paket alat snorkling adalah Rp. 25.000,- terdiri dari Fin, Goggle dan Snorkel, sedangkan untuk sewa perahu kami merogoh kocek Rp. 250.000,-, kebetulan pemilik perahu adalah tetangga kami yaitu Mas Bojes yang masih keturunan Bugis.

Sepanjang perjalanan menuju spot snorkling, kami menemukan banyak sampah di laut, perahu yang kami tumpangi setidaknya 6x mogok karena baling-balingnya terlilit sampah, mas Bojes terpaksa naik turun perahu untuk melepaskan lilitan sampah dari baling-baling perahu. Spot Snorkling pertama adalah Pulau Tikus, airnya cukup jernih dan dangkal. Selain kami, ada banyak wisatawan lain yang melakukan hal yang sama. Tapi pemandangan waktu kurang sedap, tampak sebagian dari mereka berjalan dan menginjak-injak terumbu karang :( bahkan ketika di dalam air mereka dengan bangga berfoto sambil memegang terumbu karang, padahal itu adalah perbuatan destroyer, merusak terumbu karang. Dari Pulau Tikus kami lanjutkan ke APL (Area Perlindungan Laut), di sini terumbu karangnya masih bagus dan ikannya juga lebih bervariasi. Berhubung arus laut cukup kuat dan keberadaan ubur-ubur yang beberapa kali menyengat kaki, kami tidak bisa berlama-lama snorkling di APL…kami langsung pulang ke homestay.

Malam hari kami lanjutkan dengan bakar ikan dan cumi, kami pesan ikan dan cumi ke Pak RW dan beliau juga yang bantu bakarin ditemani Bu RW. Kami dibelikan Ikan Kaneke dengan harga Rp. 40.000/kilo, ikan Kaneke ini cukup spesial pada malam itu, karena wisatawan lain hanya dapat ikan bandeng. Menurut Pak RW, sekarang untuk mendapatkan ikan di Pulau Pari agak sulit, permintaan banyak tapi yang nyari ikan (nelayan) sedikit. Dulu sebelum Pulau Pari menjadi tempat tujuan wisata, mata pencaharian penduduk Pulau Pari adalah nelayan. Setelah Pemerintah mengembangkan sektor ekowisata di Pulau Pari dengan melibatkan warga setempat, secara perlahan penduduk Pulau Pari mencari nafkah di sektor pendukung wisata antara lain buka warung makanan, sewa perahu, sewa rumah, sewa alat snorkling dan guide. Ibu RW sempat ngeluh, dulu sangat mudah untuk mendapatkan udang, sekarang beliau harus rebutan dengan penduduk lain untuk mendapatkan udang, karena nelayannya makin sedikit…kalian beruntung dapat ikan Kaneke…

Oiya saya lupa menuliskan bahwa pada saat tiba di Dermaga Pulau Pari saya ketemu dengan Christ, teman backpackeran ke Ujung Kulon. Dia datang ke Pulau Pari dengan tujuan untuk mencari ikan (spearfishing/nembak ikan dengan senjata panah). Pada saat kami bakar ikan, Christ mengajak saya untuk ikut berburu ikan malam hari dengan menggunakan speargun, ajakan yang menggiurkan. Tapi berhubung sedang menikmati ikan bersama empat rekan saya, terpaksa saya gak bisa ikut :) sorry ya bro…

Singkat cerita, inilah yang ditunggu-tunggu, motret Lyrid Meteor Shower. Pkl. 01.30 dinihari kami berangkat ke Pantai Pasir Perawan, lokasinya cocok dengan arah muncul meteor Lyrid yaitu arah utara. Perasaan gak enak mulai datang pada saat muncul cahaya kilat dari arah timur, kami cek barometer tekanan udara masih normal, masih aman. Ketika tiba di pantai kami bongkar muatan, pasang tripod, kamera, Intervalometers (timer release cables) dan tereeeeeeeet batre interval release ketinggalan di home stay. Kilatan petir muncul lagi di sebelah timur, cek barometer ternyata tekanan udara turun drastis, bintang yang tadinya kelihatan mulai menghilang tertutup awan mendung. Berhubung cuaca kurang bersahabat akhirnya kami putuskan untuk pulang ke homestay dan istirahat. Dan benar saja, cuaca gerimis sampai pagi…pemandangan sunrise juga tidak bisa kami rekam…lanjutin mimpi. (Photo by Dani Daniar)




































Kesatuan Adat Banten Kidul



Kesatuan Adat Banten Kidul adalah kelompok masyarakat adat Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun, terutama di wilayah Kabupaten Sukabumi sebelah barat hingga ke Kabupaten Lebak, dan ke utara hingga ke Kabupaten Bogor. Kasepuhan menunjuk pada adat istiadat lama yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat.

Sejarah Kasepuhan Kesatuan Adat Banten Kidul

Sejarah adanya Masyarakat Adat berdiri pada Tahun 611 M bertempat di Sajira Banten. Dengan lama kepemimpinannya adalah 500 Tahun, Pemimpin yang pertaman bernama ABAH AGUNG. Pada Tahun 1.100 M, pindah ke Limbang Kuning. Di Limbang Kuning sampai Tahun 1.400 M disitu tidak ada keturunan . Diakhir Tahun 1.400 m barulah ada keturunan Pertama bernama AKI BUYUT BAO ROSA, dan istrinya bernama AMBU SAMPIH. Selama 150 Tahun dia bertempat di Cipatat Bogor. Dari Cipatat berpindah lagi ke Maja. Setelah beliau wapat, Kasepuhan diteruskan oleh anaknya yang bernama AKI BUYUT WARNING dan istrinya bernama NINI BUYUT SAMSIAH. Beliau menjadi Kasepuhan selama 202 Tahun di Maja lalu pindah ke Lebak Larang.

Tiga Tahun diLebak Larang, beliau meninggal. Kasepuhan diteruskan oleh AKI BUYUT KAYON Tempat pun berpindah ke Lebak Binong selama 27 tahun. Diakhir hayat AKI BUYUT KAYON, generasi penerusnya saat itu belum dewasa yang bernama AKI BUYUT CEBOL, sehingga kepemimpinan Kasepuhan diwarnen* oleh AKI BUYUT SANTAYAN di Pasir Talaga. Selama 23 Tahun AKI BUYUT SANTAYAN memimpin. *Warnen adalah orang yang diserahi menjadi Pemangku adat karena penerusnya belum dewasa.

Dimasa AKI BUYUT CEBOL dewasa barulah beliau menjadi pemimpin Kasepuhan. Beliau bertempat di Tegal Lumbu selama 32 Tahun, dan diteruskan oleh UYUT JASIUN lalu pindah ke Cijangkorang. Disitu tidak lama hanya 7 Tahun beliau pindah ke Bojong selama 17 Tahun.

Setelah UYUT JASIUN wafat, pemimpin kasepuhan digantikan oleh penerusnya yaitu UYUT RUSDI. Pada Tahun 1940 UYUT RUSDI pindah ke Cicemet. Di Cicemet, UYUT RUSDI membuka hutan menjadi pemukiman. 16 Tahun kemudian, beliau berpindah lagi ke Sirnaresmi tahun 1956, dan pada tahun 1960 beliau wafat. Kasepuhan diganti Oleh ABAH ARJO. Selang waktu 15 tahun ABAH ARJO pun pindah ke Ciganas dan hanya 7 Tahun di Ciganas kemudian beliau wapat pada tahun 1982. Kasepuhan waktu itu digantikan oleh ABAH ENCUP SUCIPTA ( ABAH ANOM ). Tahun 1983 Beliau pindah ke Ciptarasa selama 17 Tahun.

Pada tahun 1985 Kesepuhan terpecah menjadi dua, yaitu :

1. Kasepuhan Ciptarasa ( Abah Anom )

2. Kasepuhan Sirna Resmi ( Abah Ujat Sujati )


Tahun 2000 ABAH ANOM pindah ke Ciptagelar. Pada Tahun 2002 ABAH UJAT SUJADI meninggal dunia dan pada waktu itu pula Kasepuhan Sirna Resmi menjadi dua kasepuhan, yaitu :

1. Kasepuhan Sinar Resmi ( Abah Asep Nugraha )

2. Kasepuhan Ciptamulya ( Abah Uum Sukmawijaya)

Pada Tahun 2007 ABAH ANOM meninggal dunia dan Kasepuhan Ciptagelar dilanjutkan oleh anaknya yaitu ABAH UGI SUGRIANA RAKASIWI.


Sejak tahun 2002 Kasepuhan menjadi tiga, yaitu :

1. Kasepuhan Ciptarasa ( Abah Anom )

    * Kasepuhan Ciptarasa lanjut ke Kasepuhan Ciptagelar ( Abah Ugi )

2. Kasepuhan Sinar Resmi ( Abah Asep nugraha )

3. Kasepuhan Ciptamulya ( Abah Uum sukmawijaya )


Kasepuhan Sinaresmi, Ciptagelar dan Ciptamulya adalah perkampungan adat yang terletak di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok ,Kabupaten Sukabumi. Orang-orang dari kota atau dari luar tidak pernah ada yang menyebut Kaolotan atau bisa jadi mereka juga tidak tahu apa itu Kaolotan. Perkampungan Komunitas masyarakat adat ini merupakan salah satu masyarakat adat yang melakukan kehidupan sehari-harinya berdasarkan aturan adat. Kebiasaan kehidupan mereka sehari-hari, selalu bercermin kepada hukum adat atau aturan adat. Karena setiap kehidupan mereka sehari-hari telah diatur dalam hukum adat atau aturan adat. Tetapi apabila mereka tidak mentaati atau melanggar aturan adat, maka mereka akan kualat (Kabendon).

Ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan oleh masyarakat adat Kasepuhan yaitu bertani. Bertani merupakan mata pencaharian mereka sehari-hari, mulai dari bertani disawah, ladang dan kebun. Untuk Pertanian yang menjadi prioritas mereka yaitu untuk pesawahan.

Alam adalah salah satu kebutuhan warga Adat. Warga adat Kasepuhan tidak bisa hidup tanpa adanya alam. Alam sangat berguna bagi warga adat Kasepuhan, contohnya hutan. Hutan, selain menghasilkan air, juga sebagai sumber obat-obatan tradisional dan sebagai mata pencaharian bagi warga masyarakat adat kasepuhan. Air juga digunakan untuk mengairi pesawahan yang ada di sekitar warga adat Kasepuhan. Mata pencaharian utama warga adat kasepuhan yaitu bertani terutama untuk pesawahan dan berladang merupakan pekerjaan sampingan. Warga adat Kasepuhan pekerjaan utamanya bertani di pesawahan dan itu memerlukan air. Oleh karena itu masyarakat adat sangat menjaga kelestarian hutan yang merupakan sumber penghidupan bagi mereka. Dalam kelembagaan adat, telah diatur tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh warga adat kasepuhan. Ngajaga leuweng adalah merupakan salah satu bentuk kepedulian warga adat Kasepuhan dalam menjaga dan melestarikan hutan.

Hutan merupakan kebutuhan yang paling utama bagi masyarakat adat Kasepuhan. Hutan fungsinya sangat banyak sekali meramahkan lingkungan, memberikan air dan mencerminkan keindahan satu daerah dimana Kasepuhan berada di daerah perbukitan yang suhu udaranya dingin sesuai dengan kodrat alam yang diberikan kepada daerah Kasepuhan. Kebersamaan warga Kasepuhan (incu putu) dalam melestarikan alam pada perinsipnya sama dengan pemerintah melalui Taman Nasional Gunung Halimun Salak TNGHS karena Kasepuhan berada dikaki gunung TNGHS, Dimana Alam/hutan dengan manusia saling membutuhkan. Oleh karena itu, ekosistim melestarikan Alam/hutan dilingkungan warga Adat adalah tetap menjadi kebiasaan.

Menjaga flora dan fauna, mengutuhkan sumber mata air menanam pohon di tempat hutan yang gundul dengan tanaman hortikultura (budidaya buah, sayuran, bunga, obat-obatan dan lain-lain). Penjaga leuweung (hutan) dipimpin oleh satu orang pimpinan, dan dibantu oleh masyarakat adat yang lain. Bertugas memastikan hutan agar tetap hijau dan juga memastikan apakah ada penebang liar yang masuk atau tidak. Warga adat Kasepuhan sangat peduli dalam menjaga hutan. Itu terbukti dengan adanya pembagian ruang kelola hutan, meraka membagi hutan kedalam tiga bagian yaitu :


1. Hutan Tutupan
2. Hutan Titipan 
3. Hutan Garapan.

Hutan Titipan yaitu hutan yang tidak boleh dimasuki atau hutan larangan . Hutan ini tidak boleh disentuh atau tidak boleh dimasuki oleh warga masyarakat adat Kasepuhan. Apabila hutan tersebut dimasuki oleh masyarakat maka sesuatu akan terjadi kepada sipelanggar itu baik berupa penyakit atau yang lainnya. Ada juga yang melanggar yaitu memasuki hutan larangan dan mereka tidak bisa pulang kerumah lagi karena tidak menemukan jalan pulang dari hutan titipan tersebut. Hutan ini fungsinya sangat besar bagi masyarakat adat Kasepuhan yaitu menyimpan air. Sawah-sawah yang ada disekitar Masyarakat kaolotan diairi dari Hutan Titipan ini. Selain untuk pesawahan, air ini juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat Kasepuhan. Mulai dari kebutuhan untuk minum, untuk mandi dan lain-lain.

Hutan Tutupan yaitu hutan yang boleh di garap tapi harus ada izin dari pemangku adat dulu. Hutan ini hanya dimanfaatkan untuk keperluan membangun rumah. Hutan ini biasanya lokasinya tidak terlalu jauh dari pemukiman masyarakat. Hutan ini tidak boleh dibuka apabila di hutan garapan masih tersedia bahan-bahan untuk keperluan/membuat rumah.

Hutan Garapan yaitu hutan yang menjadi mata pencaharian mereka sehari-hari yaitu berupa pesawahan, ladang dan kebun. Hutan Garapan ini siapa saja boleh menggarapnya asalkan ada kemauan. Baik itu Masyarakat adat atau bukan, mereka tetap dibolehkan menggarap lahan tersebut. Namun, ada satu hal yang tidak boleh yaitu mereka tidak boleh memiliki tanah tersebut secara individu dan mereka hanya diperbolehkan menggarapnya. Tidak ada batasan tertentu seberapa luas mereka harus menggarap. Dalam hal menggarap hutan garapan itu sesuai kemampuan kita. Sementara untuk pesawahan biasa nya sawah tersebut sudah merupan tanah milik atau surat pemberian hak menggrap. Sawah-sawah tersebut sifatnya sudah tanah milik dan orang lain tidak boleh menggarapnya. Ada juga aturan yang membolehkan orang lain menggarapnya yaitu sistem bagi hasil. (Photo by Dani Daniar)


































Upacara Odalan Pura Agung Parahyangan Jagatkartta



Bersama rekan-rekan dari Forum National Geographic Indonesia berangkatlah kita ke Pura Agung Parahyangan Jagatkartta – Bogor untuk meliput kegiatan persiapan Upacara Odalan/Piodalan yang akan dilaksanakan pada esok harinya yaitu hari senin 12 September 2011.

Pura Agung Parahyangan Jagatkartta terletak di lereng gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pura seluas 30 ribu meter atau sekira tiga hektar itu adalah tempat peribadatan umat Hindu terbesar di Jawa Barat dan merupakan pura terbesar di luar Bali setelah Pura Besakih.

Upacara dimulai sekitar jam 11.00 WIB. Dimulai dengan Upacara Pecaruan, upacara ini dilaksanakan di Madya Mandala & Catu Pata. Yang boleh masuk ke area ini hanya umat yang akan melakukan ibadah.

Setelah melakukan upacara Pecaruan dilanjut dengan Upacara Ngebejiang. Upacara Ngebejiang merupakan upacara di mana sebuah proses dimana pengambilan air di mata air Gunung Salak untuk membersihkan pura. Upacara Ngebejiang berlangsung di Pertirtaan yang berlokasi di belakang Pura

Sekitar jam 2 Upacara Ngebejiang di Pertirtaan selesai, para umat kembali ke Pura. Sebelum kembali ke dalam Madya Mandala, umat-umat berkumpul di Pelinggihan. Para umat berdiri setengah lingkaran, di tengah-tengah umat tampak pemimpin upacara memegang ayam cemani dan pedang. Ayam tersebut di sembelih sebagai pengorbanan. Tidak lama setelah itu tiba-tiba salah satu umat mengalami kesurupan, umat yg kesurupan tadi dibawa ke Madya Mandala diikuti oleh semua umat. Upacara dilanjutkan kembali di Madya Mandala.

Saking penasarannya, kenapa gak boleh masuk area Madya Mandala, saya pelan-pelan mendekati gerbang dan masuk ke area Madya Mandala, ternyata diperbolehkan masuk tapi tidak boleh masuk lebih dalam…hehehehehehe. (Photo by Dani Daniar)