Situs Megalitikum Gunung Padang



Pukul 02.00 dini hari kami berangkat bertiga dari Cibinong, rumah Bro Purwo menuju Situs Gunung Padang Cianjur, Jawa Barat. Dengan panduan peta dan GPS (Gunakan Penduduk Setempat) alias nanya penduduk serta dilengkapi driver handal, akhirnya kami sampai di tujuan pkl. 05.30 WIB.

Situs Gunung Padang berada di Kampung Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten – Cianjur Jawa Bawat. Lokasi situs Gunung Padang berada di titik 6°59,664’S 107°3,375’E. Luas kompleks bangunan situs -+ 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Situs Gunung Padang terletak di puncak sebuah bukit, untuk mencapainya dari dasar, pengunjung harus meniti tangga curam setinggi -+ 95 meter terbuat dari tiang-tiang batuan andesit sebanyak hampir 400 anak tangga.

Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krom. Laporan pertama tentang Gunung Padang muncul dalam laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1914 (Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie). N.J. Krom tidak melakukan penelitian mendalam atasnya, hanya menyebutkan bahwa situs ini diperkirakannya sebagai sebuah kuburan purbakala. Situs ini kemudian dilaporkan kembali keberadaannya pada tahun 1979 oleh penduduk setempat kepada penilik kebudayaan dari pemerintah daerah. Sejak itu, situs ini telah diteliti cukup mendalam secara arkeologi meskipun masih menyisakan berbagai kontroversi. Para ahli arkeologi sepakat bahwa situs ini bukan merupakan sebuah kuburan seperti dinyatakan oleh Krom (1914), tetapi merupakan sebuah tempat pemujaan.

Teka-teki mengenai umur dan siapa yang membangun situs Gunung Padang sampai sekarang belum terpecahkan. Ada yang berpendapat bahwa situs ini dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad ke-15 karena ditemukan guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu. Tetapi para ahli arkeologi berpendapat bahwa situs ini umurnya antara 1500 – 2000 SM atau sekitar 2.400 tahun sebelum kerajaan Nusantara pertama berdiri di Kutai, Kalimantan, atau kira-kira 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun. Pernyataan tersebut berdasarkan bentuk monumental megalit dan catatan perjalanan seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda yaitu Bujangga Manik, yang semasa dengan Prabu Siliwangi, menulis bahwa situs ini sudah ada sebelum Kerajaan Sunda. Naskah Bujangga Manik dari abad ke-16 menyebutkan suatu tempat “kabuyutan” (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) di hulu Ci Sokan, sungai yang diketahui berhulu di sekitar tempat ini. Menurut legenda, Situs Gunung Padang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan.. Tidak ditemukannya artefak berupa manik-manik atau peralatan perunggu menyulitkan penentuan umur situs ini.

Bahan bangunan pembuat situs adalah batu-batu besar andesit, andesit basaltik, dan basal berbentuk tiang-tiang dengan panjang dominan sekitar satu meter berdiameter dominan 20 cm. Batua-batu tersebut merupakan hasil pembekuan magma pada lingkungan sisa-sisa gunung api purbakala pada jaman Pleistosen Awal, sekitar 2 – 1 juta tahun yang lalu. Tiang-tiang batuan ini mempunyai sisi-sisi membentuk segibanyak dengan bentuk dominan membentuk tiang batu empat sisi (tetragon) atau lima sisi (pentagon). Setiap teras mempunyai pola-pola bangunan batu yang berbeda-beda yang ditujukan untuk berbagai fungsi.

Para pakar menilai, Gunung Padang itu sendiri merupakan sumber alamiah kolom batu penyusun konstruksi situs, terbukti dari berserakannya kolom-kolom batu alamiah yang bukan dari reruntuhan situs yang banyak ditemukan di kaki Gunung Padang. “Memang, batu-batu sejenis bisa dengan mudah digali dari kaki Gunung Padang ini,” kata Kang Yuda yang merupakan salah satu petugas pemelihara Situs Gunung Padang).

Di situs Megalitik Gunung Padang terdapat lima bebatuan yang menjadi ikon nya. Tiap batunya berada di macam-macam tingkat. Tingkat satu adalah Batu Gamelan, tingkat dua Batu Lumbung, tingkat tiga Batu Sanghiyang Tapak, tingkat empatBatu Gendong dan tingkat lima Batu Pandaringan. Menurut Kang Yuda fungsi dari tingkatan-tingkatan tersebut adalah, tingkat pertama untuk kesenian, tingkat dua untuk tafakur, tingkat tiga untuk kemakmuran, tingkat empat untuk mengukur diri dan tingkat lima untuk kekuasaan. Oleh karena itu banyak pengunjung yang datang ke Situs Gunung Padang untuk mencari keberuntungan dengan cara bertapa di sini.

Dari beberapa situs megalitik yang ada di Cianjur, Situs Gunung Padang paling dikenal. Sebab arealnya paling luas dan megah serta berada di atas bukit dengan kawasan yang masih asri. Kendala dalam melakukan penataan terhadap keberadaan Situs ini adalah masalah kepemilikan lahan. Baru kawasan inti saja yang lahannya milik pemerintah, sedangkan kawasan lainnya termasuk lahan kawasan penyangga yang mengitari lokasi situs masih milik warga. (Photo by Dani Daniar)






























0 komentar:

Posting Komentar