Festival Debus Banten

Untuk mempertahankan dan memperkenalkan seni tradisi Debus Banten ke masyarakat terutama wisatawan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menggelar Festival Debus Banten di Pantai Anyer, Banten. (Photo by Dani Daniar)

Candi Sewu

Merupakan candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara Candi Prambanan. Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. (Photo by Dani Daniar)

Thaipusam Kuala Lumpur

Merupakan perayaan bagi umat Hindu, khususnya Tamil, untuk menghormati Dewa Perang yaitu Dewa Murugan atau juga dikenali sebagai Dewa Subramaniam. Thaipusam dirayakan pada bulan 'Thai' bulan kesepuluh dalam kalendar Tamil. (Photo by Dani Daniar)

Pantai Sumur-Ujung Kulon

Jika sobat jalan berkunjung ke Ujung Kulon, salah satu akses menuju ke sana adalah daerah Sumur, dari Pantai Sumur kalian bisa sewa perahu untuk menyebrang ke Pulau Peucang, Ujung Kulon. (Photo by Dani Daniar)

Remaja Putri Dayak Kalimantan

Remaja putri dari suku Dayak Kalimantan Timur memakai pakaian adat mereka pada sebuah acara Pekan Budaya Dayak. (Photo by Dani Daniar)

Kuil Sri Veeramakaliamman, Little India, Singapore



Singapura terkenal memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan budaya. Beberapa kultur yang banyak ditemui di Singapura adalah Melayu, Cina dan India.

Yang cukup menarik perhatian saya adalah ketika berkunjung ke Singapura dan berada di kawasan Little India, Serangoon Road, saya merasa berada di India (meskipun belum pernah ke India) …^_^… Kawasan Litte India merupakan kawasan yang dihuni oleh mayoritas orang India.

Di Kawasan Little India terdapat sebuah Kuil Hindu yaitu Kuil Sri Veeramakaliamman, yang merupakan salah satu kuil tertua di Singapore. Kuil Sri Veeramakaliamman sudah ada sejak tahun 1953, dibangun oleh para buruh yang berasal dari Suku Tamil, India.

Kuil ini memiliki desain interior yang indah. Di bagian depan terdapat ornamen patung dewa-dewa hindu, menempel di dinding depan hingga menjulang tinggi di atap kuil. Di dalamnya terdapat koleksi patung Dewi Sri Veeramakaliamman yang diapit dua anaknya, Ganesha dan Murugan. Sri Veeramakaliamman memiliki banyak tangan yang semuanya memegang senjata penghancur, maka itu Ia dikenal sebagai Dewi Penghancur (kejam).

Kuil Sri Veeramakaliamman merefleksikan kesetiaan yang dalam penganut agama Hindu Tamil terhadap agamanya dan Sri Veeramakaliamman merupakan Dewi Ibu bagi mereka meskipun terkenal sangat kejam. Kuil ini tidak hanya dikunjungi oleh umat Hindu di Singapura saja tetapi juga menjadi tempat ziarah bagi wisatawan penganut agama Hindu dari seluruh India dan tempat ini merupakan pusat dari kebudayaan warga keturunan India di Singapura.

Kuil ini buka setiap hari pada pukul 06.00-1200 dan 17.00-21.00 waktu Singapura. Jika ingin menyaksikan kegiatan religi di kuil ini, anda bisa berkunjung pada hari selasa atau jumat. Anda bebas masuk ke dalam kuil tanpa dipungut biaya alias gratis, pengunjung harus melepaskan alas kaki ketika masuk ke dalam kuil dan dilarang berpakaian terbuka dan celana pendek. Berhubung saya di situ sebagai tourist, maka saya boleh memakai celana pendek…hehehehehehe…

Selain Kuil Sri Veeramakaliamman di Serangoon Road, ada beberapa kuil hindu lainnya di Singapura, antara lain Kuil Sri Vadapathira Kaliamman, Sri Thandayuthapani, Sri Krishnan, Sri Rutra Kaliamman, dan lainnya. (Photo by Dani Daniar)


















Situs Megalitikum Gunung Padang



Pukul 02.00 dini hari kami berangkat bertiga dari Cibinong, rumah Bro Purwo menuju Situs Gunung Padang Cianjur, Jawa Barat. Dengan panduan peta dan GPS (Gunakan Penduduk Setempat) alias nanya penduduk serta dilengkapi driver handal, akhirnya kami sampai di tujuan pkl. 05.30 WIB.

Situs Gunung Padang berada di Kampung Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten – Cianjur Jawa Bawat. Lokasi situs Gunung Padang berada di titik 6°59,664’S 107°3,375’E. Luas kompleks bangunan situs -+ 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Situs Gunung Padang terletak di puncak sebuah bukit, untuk mencapainya dari dasar, pengunjung harus meniti tangga curam setinggi -+ 95 meter terbuat dari tiang-tiang batuan andesit sebanyak hampir 400 anak tangga.

Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krom. Laporan pertama tentang Gunung Padang muncul dalam laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1914 (Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie). N.J. Krom tidak melakukan penelitian mendalam atasnya, hanya menyebutkan bahwa situs ini diperkirakannya sebagai sebuah kuburan purbakala. Situs ini kemudian dilaporkan kembali keberadaannya pada tahun 1979 oleh penduduk setempat kepada penilik kebudayaan dari pemerintah daerah. Sejak itu, situs ini telah diteliti cukup mendalam secara arkeologi meskipun masih menyisakan berbagai kontroversi. Para ahli arkeologi sepakat bahwa situs ini bukan merupakan sebuah kuburan seperti dinyatakan oleh Krom (1914), tetapi merupakan sebuah tempat pemujaan.

Teka-teki mengenai umur dan siapa yang membangun situs Gunung Padang sampai sekarang belum terpecahkan. Ada yang berpendapat bahwa situs ini dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad ke-15 karena ditemukan guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu. Tetapi para ahli arkeologi berpendapat bahwa situs ini umurnya antara 1500 – 2000 SM atau sekitar 2.400 tahun sebelum kerajaan Nusantara pertama berdiri di Kutai, Kalimantan, atau kira-kira 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun. Pernyataan tersebut berdasarkan bentuk monumental megalit dan catatan perjalanan seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda yaitu Bujangga Manik, yang semasa dengan Prabu Siliwangi, menulis bahwa situs ini sudah ada sebelum Kerajaan Sunda. Naskah Bujangga Manik dari abad ke-16 menyebutkan suatu tempat “kabuyutan” (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) di hulu Ci Sokan, sungai yang diketahui berhulu di sekitar tempat ini. Menurut legenda, Situs Gunung Padang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan.. Tidak ditemukannya artefak berupa manik-manik atau peralatan perunggu menyulitkan penentuan umur situs ini.

Bahan bangunan pembuat situs adalah batu-batu besar andesit, andesit basaltik, dan basal berbentuk tiang-tiang dengan panjang dominan sekitar satu meter berdiameter dominan 20 cm. Batua-batu tersebut merupakan hasil pembekuan magma pada lingkungan sisa-sisa gunung api purbakala pada jaman Pleistosen Awal, sekitar 2 – 1 juta tahun yang lalu. Tiang-tiang batuan ini mempunyai sisi-sisi membentuk segibanyak dengan bentuk dominan membentuk tiang batu empat sisi (tetragon) atau lima sisi (pentagon). Setiap teras mempunyai pola-pola bangunan batu yang berbeda-beda yang ditujukan untuk berbagai fungsi.

Para pakar menilai, Gunung Padang itu sendiri merupakan sumber alamiah kolom batu penyusun konstruksi situs, terbukti dari berserakannya kolom-kolom batu alamiah yang bukan dari reruntuhan situs yang banyak ditemukan di kaki Gunung Padang. “Memang, batu-batu sejenis bisa dengan mudah digali dari kaki Gunung Padang ini,” kata Kang Yuda yang merupakan salah satu petugas pemelihara Situs Gunung Padang).

Di situs Megalitik Gunung Padang terdapat lima bebatuan yang menjadi ikon nya. Tiap batunya berada di macam-macam tingkat. Tingkat satu adalah Batu Gamelan, tingkat dua Batu Lumbung, tingkat tiga Batu Sanghiyang Tapak, tingkat empatBatu Gendong dan tingkat lima Batu Pandaringan. Menurut Kang Yuda fungsi dari tingkatan-tingkatan tersebut adalah, tingkat pertama untuk kesenian, tingkat dua untuk tafakur, tingkat tiga untuk kemakmuran, tingkat empat untuk mengukur diri dan tingkat lima untuk kekuasaan. Oleh karena itu banyak pengunjung yang datang ke Situs Gunung Padang untuk mencari keberuntungan dengan cara bertapa di sini.

Dari beberapa situs megalitik yang ada di Cianjur, Situs Gunung Padang paling dikenal. Sebab arealnya paling luas dan megah serta berada di atas bukit dengan kawasan yang masih asri. Kendala dalam melakukan penataan terhadap keberadaan Situs ini adalah masalah kepemilikan lahan. Baru kawasan inti saja yang lahannya milik pemerintah, sedangkan kawasan lainnya termasuk lahan kawasan penyangga yang mengitari lokasi situs masih milik warga. (Photo by Dani Daniar)