Seren Taun Kasepuhan Sinar Resmi



Berawal dari undangan terbuka dari Kasepuhan Sinar Resmi untuk datang ke Acara Seren Taun ke-433 tanggal 16-17 Juni 2012, jumat malam kami berangkat dari Jakarta menuju Sukabumi. Setelah menempuh enam jam perjalanan, pkl. 04.00 wib kami tiba di Pelabuhan Ratu. Berhubung perjalanan masih jauh, kami numpang istirahat di rumah kang Dino (Fotografer Surfing & Admin www.visitsukabumi.com).

Selesai sarapan, sekitar pkl. 10.00 wib kami melanjutkan perjalanan ke Kasepuhan Sinar Resmi. Kasepuhan Sinar Resmi berada di Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Sukabumi. Dari Pelabuhan Ratu kami harus menempuh -+ 4 jam perjalanan untuk sampai ke Kasepuhan Sinar Resmi.

Sekitar Pkl. 14.30, kami tiba di Kasepuhan, kamipun disambut oleh tuan rumah, sebelum dijamu makan siang, kami menemui dulu ketua adat Kasepuhan yaitu Abah Asep Nugraha. Kamipun masing-masing memperkenalkan diri dan menerangkan maksud kami datang ke Kasepuhan. Abah Asep tidak segan-segan menerangkan tentang Kasepuhan Sinar Resmi dan menjawab pertanyaan dari kami. Selesai ngobrol dengan Abah Asep kami lanjut makan siang di Imah Gede (Rumah Ketua Adat).

Kasepuhan Sinar Resmi merupakan salah satu Kasepuhan Adat Banten Kidul yang terletak di kawasan kaki gunung Halimun Salak, Sukabumi. Kasepuhan Sinar Resmi saat ini dipimpin oleh Abah Asep Nugraha, beliau merupakan ketua adat generasi ke-10.

Upacara Adat Seren Taun merupakan upacara adat terbesar bagi Kasepuhan yang dilakukan satu tahun sekali yaitu setelah selesai panen. Seren Taun bisa disebut juga ampih pare ka leuit yg artinya menyimpan padi ke dalam leuit si jimat, yaitu leuit paling besar yang berada di dekat imah gede / rumah ketua adat.

Upacara Seren Taun di Kasepuhan Sinar Resmi dimulai pada hari sabtu dengan pementasan beberapa seni budaya lokal. Menjelang siang sampai sore musik Dogdog Lojor dan Wayang Golek pentas saling bergantian. Pada malam hari (malam minggu), Balebat dan Gondang Buhun dipentaskan di panggung lapangan yang berada di depan Imah Gede.

Balebat adalah kesenian tradisional masyarakat adat kasepuhan sinar resmi yang di pentaskan dalam acara seren taun, filosofi dari kesenian tersebut adalah simbol meluapkan rasa kegembiraan masyarakat adat pada saat setelah panen. Biasanya acara balebat dipentaskan pada malam minggu, sehari sebelum puncak acara. Balebat dipentaskan oleh 15 orang, terdiri dari 6 orang perempuan dan 6 orang laki – laki, diiringi oleh musik yang terdiri dari 1 orang penabuh gendang, 1 orang peniup suling, dan 1 orang pemukul gong. Sedangkan Gondang adalah kelanjutan dari pentas kesenian balebat, gondang dipentaskan seperti balebat tapi dilengkapi dengan kentrungan/menumbuk lesung yg dilakukan oleh kaum perempuan sebagai simbol warga adat sedang menumbuk padi. Dan sebagai penutup malam, penonton disuguhi musik dangdut…

Minggu 17 Juni 2012 adalah puncak Upacara Seren Taun, diawali dengan ritual Ngangkat. Ritual ngangkat dilakukan pada pagi hari pukul 05.00 WIB, kaum perempuan bergantian menumbuk lesung diiringi dengan musik Dogdog Lojor dan Nyanyian Sunda sambil Ngibing (nari). Sekitar pkl. 06.00 WIB ritual Ngangkat selesai, istirahat untuk persiapan acara selanjutnya.

Pkl. 08.00 WIB, tamu undangan mulai berdatangan, diantaranya Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Badri Suhendi, Dandim 0622 Kabupaten Sukabumi Letkol Inf. Fifin Firmansyah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahrga Kabupaten Sukabumi Thendi Hendrayana, dan Camat Cisolok Asep Budi. Sebelum upacara Ampih Pare, tamu dan warga disuguhi pentas Jipeng dan Pencak Silat.

Pkl. 09.30 WIB, puncak acara yaitu Ampih Pare Ka Leuit dimulai, diawali dengan masuknya iringan Sesepuh Adat, Rengkong (pembawa padi), Dogdog Lojor ke depan Imah Gede untuk menjemput Ketua Adat. Kepala adat beserta tamu kehormatan berjalan paling depan diiringi rombongan pembawa pagi (rengkong) menuju Leuit Si Jimat (Lumbung Padi). Sebelum Ngampihkeun Pare ka Leuit (nyimpen padi ke lumbung), Abah Asep melakukan ritual terlebih dahulu dengan menyalakan kemenyan dan doa.

Setelah Abah Asep menyimpan padi ke lumbung, tamu-tamu kehormatan seperti Lurah, Camat dll. bergiliran ikut menyimpan padi naik ke lumbung. Setelah upacara ampih pare ka leuit, dilanjutkan dengan dialog tokoh masyarakat di depan Imah Gede, pada dialog tersebut Thendi Hendrayana (Kemendikbud Sukabumi) menerima Iket (Ikat Kepala), langsung dikenakan dipasang oleh Abah Asep.

Acara dilanjutkan dengan peragaan atraksi Debus, dimulai dengan pemotongan bambu untuk ngetes ketajaman golok dan atraksi pun dimulai, bagian tubuh dua bocah di iris-iris dengan golok. Selain dua bocah tersebut, seorang polisi, kameramen dan bahkan balita umur 1.5 tahun terlibat dalam atraksi Debus…pokona mah edun lah…

Menjelang siang tamu dipersilahkan istirahat makan di Imah Gede, menjelang sore acara dilanjutkan dengan permainanLaes (Bergelayunan atas tali diantara dua bambu) dan malam harinya sebagai penutup acara hiburan, dipentaskan Wayang Golek Asep Sunardar Sunarya. (Photo by Dani Daniar)



















0 komentar:

Posting Komentar