Festival Debus Banten

Untuk mempertahankan dan memperkenalkan seni tradisi Debus Banten ke masyarakat terutama wisatawan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menggelar Festival Debus Banten di Pantai Anyer, Banten. (Photo by Dani Daniar)

Candi Sewu

Merupakan candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara Candi Prambanan. Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. (Photo by Dani Daniar)

Thaipusam Kuala Lumpur

Merupakan perayaan bagi umat Hindu, khususnya Tamil, untuk menghormati Dewa Perang yaitu Dewa Murugan atau juga dikenali sebagai Dewa Subramaniam. Thaipusam dirayakan pada bulan 'Thai' bulan kesepuluh dalam kalendar Tamil. (Photo by Dani Daniar)

Pantai Sumur-Ujung Kulon

Jika sobat jalan berkunjung ke Ujung Kulon, salah satu akses menuju ke sana adalah daerah Sumur, dari Pantai Sumur kalian bisa sewa perahu untuk menyebrang ke Pulau Peucang, Ujung Kulon. (Photo by Dani Daniar)

Remaja Putri Dayak Kalimantan

Remaja putri dari suku Dayak Kalimantan Timur memakai pakaian adat mereka pada sebuah acara Pekan Budaya Dayak. (Photo by Dani Daniar)

Seren Taun Kasepuhan Sinar Resmi



Berawal dari undangan terbuka dari Kasepuhan Sinar Resmi untuk datang ke Acara Seren Taun ke-433 tanggal 16-17 Juni 2012, jumat malam kami berangkat dari Jakarta menuju Sukabumi. Setelah menempuh enam jam perjalanan, pkl. 04.00 wib kami tiba di Pelabuhan Ratu. Berhubung perjalanan masih jauh, kami numpang istirahat di rumah kang Dino (Fotografer Surfing & Admin www.visitsukabumi.com).

Selesai sarapan, sekitar pkl. 10.00 wib kami melanjutkan perjalanan ke Kasepuhan Sinar Resmi. Kasepuhan Sinar Resmi berada di Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Sukabumi. Dari Pelabuhan Ratu kami harus menempuh -+ 4 jam perjalanan untuk sampai ke Kasepuhan Sinar Resmi.

Sekitar Pkl. 14.30, kami tiba di Kasepuhan, kamipun disambut oleh tuan rumah, sebelum dijamu makan siang, kami menemui dulu ketua adat Kasepuhan yaitu Abah Asep Nugraha. Kamipun masing-masing memperkenalkan diri dan menerangkan maksud kami datang ke Kasepuhan. Abah Asep tidak segan-segan menerangkan tentang Kasepuhan Sinar Resmi dan menjawab pertanyaan dari kami. Selesai ngobrol dengan Abah Asep kami lanjut makan siang di Imah Gede (Rumah Ketua Adat).

Kasepuhan Sinar Resmi merupakan salah satu Kasepuhan Adat Banten Kidul yang terletak di kawasan kaki gunung Halimun Salak, Sukabumi. Kasepuhan Sinar Resmi saat ini dipimpin oleh Abah Asep Nugraha, beliau merupakan ketua adat generasi ke-10.

Upacara Adat Seren Taun merupakan upacara adat terbesar bagi Kasepuhan yang dilakukan satu tahun sekali yaitu setelah selesai panen. Seren Taun bisa disebut juga ampih pare ka leuit yg artinya menyimpan padi ke dalam leuit si jimat, yaitu leuit paling besar yang berada di dekat imah gede / rumah ketua adat.

Upacara Seren Taun di Kasepuhan Sinar Resmi dimulai pada hari sabtu dengan pementasan beberapa seni budaya lokal. Menjelang siang sampai sore musik Dogdog Lojor dan Wayang Golek pentas saling bergantian. Pada malam hari (malam minggu), Balebat dan Gondang Buhun dipentaskan di panggung lapangan yang berada di depan Imah Gede.

Balebat adalah kesenian tradisional masyarakat adat kasepuhan sinar resmi yang di pentaskan dalam acara seren taun, filosofi dari kesenian tersebut adalah simbol meluapkan rasa kegembiraan masyarakat adat pada saat setelah panen. Biasanya acara balebat dipentaskan pada malam minggu, sehari sebelum puncak acara. Balebat dipentaskan oleh 15 orang, terdiri dari 6 orang perempuan dan 6 orang laki – laki, diiringi oleh musik yang terdiri dari 1 orang penabuh gendang, 1 orang peniup suling, dan 1 orang pemukul gong. Sedangkan Gondang adalah kelanjutan dari pentas kesenian balebat, gondang dipentaskan seperti balebat tapi dilengkapi dengan kentrungan/menumbuk lesung yg dilakukan oleh kaum perempuan sebagai simbol warga adat sedang menumbuk padi. Dan sebagai penutup malam, penonton disuguhi musik dangdut…

Minggu 17 Juni 2012 adalah puncak Upacara Seren Taun, diawali dengan ritual Ngangkat. Ritual ngangkat dilakukan pada pagi hari pukul 05.00 WIB, kaum perempuan bergantian menumbuk lesung diiringi dengan musik Dogdog Lojor dan Nyanyian Sunda sambil Ngibing (nari). Sekitar pkl. 06.00 WIB ritual Ngangkat selesai, istirahat untuk persiapan acara selanjutnya.

Pkl. 08.00 WIB, tamu undangan mulai berdatangan, diantaranya Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Badri Suhendi, Dandim 0622 Kabupaten Sukabumi Letkol Inf. Fifin Firmansyah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahrga Kabupaten Sukabumi Thendi Hendrayana, dan Camat Cisolok Asep Budi. Sebelum upacara Ampih Pare, tamu dan warga disuguhi pentas Jipeng dan Pencak Silat.

Pkl. 09.30 WIB, puncak acara yaitu Ampih Pare Ka Leuit dimulai, diawali dengan masuknya iringan Sesepuh Adat, Rengkong (pembawa padi), Dogdog Lojor ke depan Imah Gede untuk menjemput Ketua Adat. Kepala adat beserta tamu kehormatan berjalan paling depan diiringi rombongan pembawa pagi (rengkong) menuju Leuit Si Jimat (Lumbung Padi). Sebelum Ngampihkeun Pare ka Leuit (nyimpen padi ke lumbung), Abah Asep melakukan ritual terlebih dahulu dengan menyalakan kemenyan dan doa.

Setelah Abah Asep menyimpan padi ke lumbung, tamu-tamu kehormatan seperti Lurah, Camat dll. bergiliran ikut menyimpan padi naik ke lumbung. Setelah upacara ampih pare ka leuit, dilanjutkan dengan dialog tokoh masyarakat di depan Imah Gede, pada dialog tersebut Thendi Hendrayana (Kemendikbud Sukabumi) menerima Iket (Ikat Kepala), langsung dikenakan dipasang oleh Abah Asep.

Acara dilanjutkan dengan peragaan atraksi Debus, dimulai dengan pemotongan bambu untuk ngetes ketajaman golok dan atraksi pun dimulai, bagian tubuh dua bocah di iris-iris dengan golok. Selain dua bocah tersebut, seorang polisi, kameramen dan bahkan balita umur 1.5 tahun terlibat dalam atraksi Debus…pokona mah edun lah…

Menjelang siang tamu dipersilahkan istirahat makan di Imah Gede, menjelang sore acara dilanjutkan dengan permainanLaes (Bergelayunan atas tali diantara dua bambu) dan malam harinya sebagai penutup acara hiburan, dipentaskan Wayang Golek Asep Sunardar Sunarya. (Photo by Dani Daniar)



















Durian Musang King



Bagi temen-temen yang sedang melancong di Singapura dan suka durian, wajib mencicipi Durian Musang King. Durian Musang King dijual di Kawasan Bugis Street, dari Bugis Junction nyebrang masuk Bugis Street ke arah Bencoolen, setelah di ujung Bugis Street belok ke kiri, disana ada tukang buah, Durian Musang King ada di paling ujung.

Durian Monthong asal Thailand yang dulu terkenal kini kalah dengan Durian Musang King yang berasal dari Malaysia. Durian Musang King hanyalah nama komersial, nama sebenarnya di Malaysia adalah Durian Kunyit, karena warna durian ini kuning seperti warna kuning kunyit. Jangan kaget bila Durian Musang King ini harganya fantastis, 3 biji durian harganya S$ 20, sedangkan 1 buah durian harganya S$ 68. Harganya cocok dengan rasanya yang enak, dagingnya tebal dan bijinya kecil…mantap dah…enyak…enyak...

(Photo by Dani Daniar)











Ngertakeun Bumi Lamba di Gn. Tangkuban Perahu


Sobat jalan pastinya sudah pernah berkunjung ke Gunung Tangkuban Perahu di Lembang, Bandung. Apakah sobat jalan mengetahui kalau di Gunung Tangkuban Perahu ada event budaya ?...

Pada bulan-bulan tertentu, di Gunung Tangkuban Perahu digelar acara Ngertakeun Bumi Lamba. NGERTAKEUN BUMI LAMBA adalah sebuah upacara tahunan di puncak Gunung Tangkuban Parahu, digelar bertepatan dengan posisi matahari yang baru mulai kembali dari paling utara bumi menuju selatan, yaitu di setiap bulan ‘kapitu’ ( bulan ke 7 ), dalam hitungan Suryakala, kala-ider (kalender) Sunda. Bersama mengekspresikan sembah kepada yang telah memberi kehidupan dengan cara menghaturkan beragam keindahan rasa persembahan, hasil bumi, lantunan mantera, musik sakral dan tarian.

NGERTAKEUN berasal dari kata NGRETAKEUN yang berarti mensejahterakan atau memakmurkan. Intinya adalah berterima kasih kepada asal mu asal keberadaan diri di alam ini. Menghormati Gunung sebagai tempat ‘kabuyutan’ (sumber air, makanan atau juga leluhur). Mengingatkan kepada setiap kita bahwa kesucian gunung adalah sumber utama mahluk di sekitar gunung tersebut, gunung adalah Pakuan Bumi di semesta ini, gunung menjadi sumber nilai spiritual dan budi pekerti yang mendasari perilaku yang berbudaya bagi umat manusia di muka bumi, sebagaimana nama SUNDA yang melekat pada Gunung Tangkuban Parahu (Purba Kancana Parahyangan).

Dengan diadakannya upacara ini, maka dampak lainnya adalah, masyarakat sekitar, begitu juga pemerintah akan sadar, bahwa karena gunung ini sumber air, maka kelestarian hutannya harus dijaga ” Mulasara Kabuyutan “.

Kalimat “Ngertakeun Bumi Lamba” tercatat pada naskah Sanghyang Siksakandang Karesian yang ditulis pada abad ke 16 (1518 M). Sanghyang Siksakandang Karesian merupakan kitab pada zaman Kerajaan Sunda Galuh (Pajajaran) yang mengajarkan ilmu tentang kesejahteraan hidup/aturan mengenai kesejahteraan (negara, manusia dan dunia).

Berikut kutipan kalimat “Ngertakeun Bumi Lamba” pada naskah Sanghyang Siksakandang Karesian:

“Ini pakeun urang ngretakeun bumi lamba, caang jalan, panjang tajur, paka pridana, linyih pipir, caang buruan. Anggeus ma imah kaeusi, leuit kaeusi, paranje kaeusi, huma kaomean, sadapan karaksa, palana ta hurip, sowe waras, nyewana sama wong (sa)rat. Sangkilang di lamba, trena taru lata galuma, hejo lembok tumuwuh sarba pala wo(h)wohan, dadi na hujan, landung tahun, tumuwuh daek, maka hurip na urang reya. Inya eta sanghyang sasana kreta di lamba nga-rana”

Artinya:
“Ini (jalan) untuk kita menyejahterakan dunia kehidupan, bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang, bersih halaman belakang, bersih halaman rumah. Bila berhasil rumah terisi, lumbung terisi, kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan terpelihara, lama hidup, selalu sehat, sumbernya terletak pada manusia sedunia. Seluruh penopang kehidupan, rumput, pohon-pohonan, rambat. semak, hijau subur tumbuhnya segala macam buah-buahan, banyak hujan, pepohonan tinggi karena subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak. Ya itulah (sanghiyang) sarana kesejahteraan dalam kehidupan namanya.”

Susunan acara hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu:

1. JAJAP PARAWANTEN

Ini menandakan upacara di mulai, yaitu jam 10.00 wib, setelah berkumpul di dekat tempat parkir atas (+/- 200 meter dari tempat parkir), bersama-sama melakukan ‘helaran’ (arakan), membawa sesajen diiringi tetabuhan/musik angklung menuju kawah.

2. NGALINGGIHKEUN PARAWANTEN
Memasuki area upacara. menempatkan sesajen ditempat yang telah disediakan, semua peserta membuat lingkaran, para tetua duduk sila di tempatnya, saat yang sama “KOLOT NUMBALAN” (ngukus menyan oleh tetua)

3. RAJAH PAMUKA

Setelah peserta siap melingkar duduk tertib, meditasi/menekung bersama diiringi musik kecapi suling dan alunan rajah, oleh ‘jaro rajah’

4. RAJAH NUSANTARA SABUANA

‘Angklung buhun’ (Angklung sakral) mulai ngaruwat, terus mereka akan berkeliling memutari area upacara dan seluruh peserta, sebagian dari peserta boleh ikut berputar, juga dimulainya agni hotra (seuneu agung), menyampaikan cinta-kasih oleh jaro pangaramat (pasaduan), kecapi suling pirigan, semua itu mulai bersama. Kemudian alur mengalir, ketika rasa jiwa mulai bangkit, kidung/mantra dari berbagai daerah dilantukan dengan kebebasan hati dan rasa yang terpanggil, membebaskan semua peserta terlibat dalan nyanyian, suara-suara dari mulut, semua dorongan suara dengan rasa hati yang mulai terbuka, baik dengan lagu berisi pesan atau pun suara tanpa kata-kata. Dalam alur yang memuncak, alat tetabuhanan/musik lain baru akan masuk setelah “jaro pamangkat” memberi tanda tabuhan/musik, maka semua yang membawa alat tabuhan/musik membunyikan dan menyertakan diri secara harmoni dalam detak nada yang berlangsung.

5. IBING SANGHYANG ISMAYA (WISNU)

Angklung buhun, seuneu agung, kidung/mantra terus berlantun bersahutan, dimulai dengan 7 orang penari laki-laki (tua-muda) membuka tarian, mengikuti detak nada. diikuti kemuadian oleh peserta yang ingin menari, laki-laki atau perempuan boleh ikut. sampai puncak rasa hati, dan kemudian semua cukup untuk mulai berhenti.

6. IBING ASIH SANGHYANG SRI POHACI (DEWI SRI)

Semua berhenti gelar kembali hening dan melanjutkan diri untuk diam, meditasi/menekung, atau merasakan dan membangun rasa hati yang damai. maka selanjutnya iringan tabuhan/musik ‘tarawangsa’. 7 orang penari perempuan (tua-muda) membuka tarian. selanjutnya diikuti oleh peserta yang ingin menari, laki-laki atau perempuan boleh, menari bersama.

7. RAJAH PAMUNAH

Semua sudah pada puncaknya. Sebagai penutup, meditasi/menekung bersama. Diiringi karinding, semua yang membawa karinding membunyikannya. celempung tunggal, suling, dan toleat. para jaro pangjejer akan mencipratkan air kesemua peserta yang hadir. dan proses olah rasa sudah selesai. Peserta saling bersalaman, mengambil sesajen, dan lain2.

8. TARAWANGSA

Sebagai penutup Ritual akan di iringi Tarawangsa yaitu Tarian Spiritual, dan semua peserta dapat menari bersama bergantian sebagai Ucapan Terima Kasih kepada Sang Hyang Maha Pencinta atas apa yang telah diberikan dalam kehidupan kita selama ini. 

(Photo by Dani Daniar)





































Dieng Plateau



Nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “di” yang berarti tempat, dan “hyang” yang berarti dewa pencipta. Secara keseluruhan Dieng dapat diartikan sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Sementara para penduduk sekitar sering mengartikan bahwa Dieng berasal dari kata “edi” yang berarti cantik dalam bahasa Jawa, dan “aeng” yang berarti aneh. Dengan kata lain Dieng adalah sebuah tempat yang cantik namun memiliki banyak keanehan.

Terletak pada ketinggian 2000 meter dpl, masyarakat Dieng patut bersyukur atas melimpahnya kekayaan yang dianugerahkan kepada tanah mereka yang cantik dan eksotik ini. Kompleks Candi Arjuna yang merupakan candi hindu tertua di Pulau Jawa masih berdiri dengan tegaknya di tengah deraan waktu dan cuaca, menjadi bukti warisan kekayaan budaya yang luar biasa. Meskipun beberapa bagian candi mulai aus dimakan usia, namun candi pemujaan Dewa Siwa yang dibangun pada tahun 809 M ini tetap kokoh berdiri memberikan nuansa kedamaian di tengah keheningan alam pegunungan.

Cuaca dingin yang cukup ekstrim untuk sebuah wilayah yang terletak di daerah tropis telah memunculkan gaya hidup dan gaya berpakaian yang unik dari para penduduknya. Suhu udara pada siang hari berkisar antara 15-20 derajat celcius sementara pada malam hari berkisar antara 10 derajat celcius. Pada bulan Juli dan Agustus suhu bisa mencapai 0 derajat celcius pada siang hari dan -10 derajat celcius pada malam hari.

Udara sejuk dan dingin ini benar-benar dimanfaatkan oleh penduduk untuk memaksimalkan usaha pertanian mereka. Lahan yang berlimpah mereka ubah menjadi ladang untuk menanam aneka sayur dan buah-buahan. Komoditas utama mereka adalah kentang dan kubis. Carica, pepaya Dieng, disulap menjadi makanan lezat yang selalu diburu sebagai oleh-oleh khas Dieng. Purwaceng, salah satu jenis rumput yang tumbuh liar, diolah menjadi minuman khas Dieng yang berkhasiat untuk menambah kejantanan pria. Berbicara tentang kuliner, makanan khas Dieng lainnya yang wajib dicoba adalah tempe kemul yang lezat dan mie ongklok Wonosobo yang telah melegenda.

Sesungguhnya Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan sebagai gunung api raksasa. Datarannya terbentuk dari kawah gunung berapi yang telah mati. Bentuk kawah ini terlihat jelas dari dataran yang dikelilingi oleh gugusan pegunungan disekitarnya. Namun meskipun gunung api ini telah berabad-abad mati, beberapa kawah vulkanik masih aktif hingga sekarang. Di antaranya adalah Kawah Sikidang, yang selalu berpindah-pindah tempat dan meloncat-loncat seperti “kidang” atau kijang.

Keunikan proses terbentuknya menghasilkan bentang alam yang eksotik dan tidak ada duanya. Telaga Warna yang memantulkan warna hijau, biru dan ungu serta pesona keindahan matahari terbit dari puncak Gunung Sikunir adalah tempat-tempat yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Sebagai tanah yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa, aura mistis dan berbagai mitos masih dipercaya oleh warga asli Dieng. Salah satunya adalah fenomena anak gimbal. Entah mengapa banyak anak di wilayah ini tiba-tiba berubah menjadi berambut gimbal. Mereka yang awalnya lahir dalam keadaan normal seperti anak kebanyakan, mendadak terserang demam tinggi dan tumbuh rambut gimbal di kepalanya. Sebagian besar warga percaya bahwa anak gimbal adalah keturunan pepunden atau leluhur pendiri Dieng. Mereka ini kemudian harus dipotong rambut gimbalnya melalui sebuah prosesi ruwatan, setelah permintaan si anak dipenuhi oleh orangtuanya. Bila orangtua gagal memenuhinya, maka rambut gimbal akan tumbuh lagi meski telah dipotong berkali-kali. 
(Photo by Dani Daniar)





















Adu Ketangkasan Domba Garut


Sobat jalan, ceritanya saya sedang berkunjung di rumah sodara di Lembang, minggu pagi saya diajak sodara saya ke Babakan Siliwangi Bandung untuk melihat adu ketangkasan domba garut. Adu ketangkasan domba garut di Babakan Siliwangi rutin digelar setiap minggu pertama setiap bulannya. Menurut salah satu panitia penyelenggara dari Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI), Babakan Siliwangi merupakan cikal bakal tempat pertunjukan seni adu domba di Bandung. Babakan Siliwangi pertama kali digunakan untuk adu ketangkasan sekitar tahun 1960 saat Kota Bandung dipimpin Husein Wangsaatmadja.

Perlu di ketahui bahwa adu ketangkasan domba garut di Babakan Siliwangi Bandung ini tidak mencari siapa yang menang siapa yang kalah, tidak ada hadiah utama dan tidak ada unsur judi. Adu ketangkasan domba garut di sini hanya sebagai sarana silaturahmi para peternak sekaligus sebagai sarana untuk menyaluran naluri berkelahi domba jantan, sebab domba jenis ini bisa merusak kandang jika tidak diadukan dengan sesama jantan.

Pada pukul 07.00 pagi, para peserta mulai mendatangi kawasan arena dengan menggunakan kendaraan bak terbuka yang diisi oleh beberapa domba garut yang siap tanding. Satu demi satu domba diturunkan dari kendaraan menuju ke kawasan arena kemudian diikat dengan tali yang kuat.

Setelah diikat dan yakin dengan kondisi dombanya, para pemilik domba mulai mendaftarkan diri ke panitia dengan membayar ongkos Rp. 20.000/ekor domba. Sebelumnya para pemilik domba telah memilih lawan tanding untuk domba-dombanya dengan istilah “tanding di luar”.

Jam 09.00 pagi acara adu ketangkasan dimulai, pasangan domba yang akan diadu mulai dipanggil ke dalam arena. Adu ketangkasan domba ini dipimpin oleh seorang wasit. Jumlah tandukan yang dilakukan setiap domba dalam sebuah satu pertandingan berbeda-beda sesuai dengan kelas. Kelas pemula biasanya maksimal hanya 10 tandukan, kelas medium 15 tandukan sedangkan untuk domba-domba yg lebih besar bisa sampai 20 tandukan…pusing pusing dah tu domba…

Dilihat dari jumlah penonton, adu ketangkasan domba garut ini masih disukai masyarakat terutama masyarakat lokal. Meskipun jumlah penonton selalu penuh pada setiap pertandingan tapi Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) sebagai penyelenggara tidak akan mengkomersilkan acara tersebut, adu ketangkasan domba garut ini akan tetap menjadi tontonan gratis bagi masyarakat. Penonton senang, peternak domba senang, populasi domba garut terjaga dan seni tradisi ini bisa bertahan. (
Photo by Dani Daniar)














Pangumbahan Turtle Center, Ujung Genteng - Sukabumi



Sobat Jalan, kali ini saya berkesempatan jalan-jalan dengan Redaksi National Geographic Indonesia beserta teman-teman Forum NatGeo Indonesia, kami melakukan kunjungan ke Balai Konservasi Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Center) Ujung Genteng Sukabumi – Jawa Barat.

Kunjungan ini dalam rangka Program Penyu Untuk Indonesia yang bertujuan untuk kampanye perlindungan penyu yang hampir punah. Di sana kami disambut oleh Bapak Janawi yang merupakan Kepala Bidang Tata Usaha Balai Konservasi Penyu Pangumbahan.

Sebagai warga negara Indonesia harus bangga karena dari 7 spesies penyu di dunia ini, 6 spesies ada di Indonesia. Ketujuh jenis penyu yang masih bertahan, adalah:

  • Penyu Hijau (Chelonia mydas) 
  • Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) 
  • Penyu Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi) 
  • Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) 
  • Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) 
  • Penyu Pipih (Natator depressus) 
  • Penyu Tempayan (Caretta caretta) 
Dari ketujuh jenis ini, hanya penyu Kemp’s ridley yang tidak pernah tercatat ditemukan di perairan Indonesia.

Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 – 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising dan cahaya sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang yang digali dengan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut.


Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.

Di tempat-tempat yang populer sebagai tempat bertelur penyu biasanya sekarang dibangun stasiun penetasan untuk membantu meningkatkan tingkat kelulushidupan (survival). Di Indonesia misalnya terdapat stasiun penetasan di:

  • Pantai Selatan Jawa Barat (Pangumbahan, Cikepuh KSPL Chelonia UNAS) 
  • Pantai Selatan Bali (di dekat Kuta) 
  • Kalimantan Tengah (Sungai Cabang FNPF) 
  • Pantai Selatan Lombok 
  • Jawa Timur (Alas Purwo) 
  • Bengkulu (Retak ilir Muko-muko) 
  • Pulau Cangke Kabupaten Pangkep Prov. Sulawesi selatan 
Dalam laporan Conservation International (CI) yang diumumkan pada simposium tahunan ke-24 mengenai usaha pelestarian penyu diKosta Rika disebutkan, banyaknya penyu belimbing turun dari sekitar 115.000 ekor betina dewasa menjadi kurang dari 3.000 ekor sejak tahun 1982. Penyu belimbing telah mengalami penurunan 97% dalam waktu 22 tahun terakhir. Selain itu, lima spesies penyu juga beresiko punah, meski tidak dalam jangka waktu yang singkat seperti penyu belimbing.

Hampir semua jenis penyu termasuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi oleh undang-undang nasional maupun internasional karena dikhawatirkan akan punah disebabkan oleh jumlahnya makin sedikit. Di samping penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation Union (IUCN). Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang atau penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), dan penyu tempayan atau loggerhead (Caretta caretta) digolongkan sebagai terancam punah. Hanya penyu pipih (Natator depressus) yang diperkirakan tidak terancam.

Sebagian orang menganggap penyu adalah salah satu hewan laut yang memiliki banyak kelebihan. Selain tempurungnya yang menarik untuk cendramata, dagingnya yang lezat ditusuk jadi Sate penyu berkhasiat untuk obat dan ramuan kecantikan. Terutama di Tiongkok dan Bali, penyu menjadi bulan-bulanan ditangkap, disantap, tergusur dari pantai, telurnyapun diambil. Meski sudah ada Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pelestarian Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang melindungi semua jenis penyu, perburuan terhadap hewan yang berjalan lamban ini terus berlanjut. Untuk mencegah kepunahan penyu, terutama penyu belimbing, beberapa negara telah melindungi tempat bertelur penyu. Salah satunya adalah di Jamursba Medi, yang terletak di pantai utara Irian. Pantai itu baru-baru ini ditetapkan sebagai wilayah konservasi. (Photo by Dani Daniar)